We have a baby! Part 4: Hello Keiko-chan! Urus dokumen ini itu

Kerangka post ini:

  1. Kegiatan pasca lahiran selama di RS
  2. Pengurusan dokumen terkait kelahiran anak

Setelah saya baca ulang 3 bagian mengenai proses selama hamil hingga lahiran, rasanya itu belum menjelaskan semua kehebatan seorang istri, seorang ibu, dalam mengantarkan seorang generasi penerus lahir ke dunia ini. Saat itu langsung telpon ke Ibu dan Ibu mertua, cuman bisa bilang terima kasih, dan di dalam hati juga mengucapkan apresiasi untuk semua Ibu yang dengan ikhlas menjadi perantara untuk lahirnya anak-anak baru di dunia ini.

DSC08860.JPG

Keiko-chan, umur 1 hari

Kembali ke lahiran Keiko, perasaan saya masih campur aduk. Senang pasti, karena anak yang telah dinanti-nanti akhirnya terlahir dengan sehat dan selamat. Yang lumayan terbayang-bayang adalah apakah diri ini mampu menjadi sosok Ayah yang baik untuknya. Rasanya umur ini masih muda, belum ada status pekerjaan yang jelas, dan sebagai-sebagainya. Continue reading “We have a baby! Part 4: Hello Keiko-chan! Urus dokumen ini itu”

Advertisements
We have a baby! Part 4: Hello Keiko-chan! Urus dokumen ini itu

We have a baby! Part 3: Preparing for delivery

Pagi itu sekitar jam 4.30. istri terbangun karena merasa seperti buang air kecil tapi tidak dapat dikontrol, dan ciri-cirinya mirip dengan ketuban seperti yang sudah dijelaskan saat pre-mama class kedua. Oleh karenanya kami langsung mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa ke rumah sakit. Seketika itu saya menelepon ke rumah sakit dengan dialog secara garis besar seperti di link ini https://sabakukyu.wordpress.com/2016/08/15/pengalaman-melahirkan-di-jepang-part-2/.

Pihak rumah sakit bilang ke saya untuk segera berangkat ke rumah sakit dan masuk melalui pintu emergency, dan tidak lupa menyuruh saya tenang hehe. Setelah persiapan selesai, saya menelepon taxi (credit untuk Uda Ashlih karena sudah membuat klasifikasi Taxi yang bisa dipesan untuk keperluan ibu akan melahirkan). Perusahaan Taxi pertama bilang bahwa sedang tidak ada armada (saat itu menunggu 5 menit dikonfirmasi, jadi semacam PHP). Perusahaan Taxi kedua siap menjemput, dan 5 menit setelahnya sudah tersedia satu unit Taxi di depan apartemen kami. Jalanlah kami ke rumah sakit, sambil saya memberi kabar ke Sensei dan teman-teman terdekat.

Hasil gambar untuk タクシー川崎

Ilustrasi Taxi Kawasaki, sumber: Google keyword タクシー川崎

Bapak supir Taxi mengambil jalan yang berbeda dari yang tertera di Google Maps. Saya sedikit waswas, masa iya supir Taxi di kondisi darurat begini masih memainkan argo (maklum ya pembaca, bapak siaga gampang panik hehe). Mungkin saja benar, tetapi jalan-jalan kecil melewati komplek perumahan sepertinya memang sedikit lampu merah, Alhamdulillah. Sesampainya di rumah sakit, saya mendaftarkan istri saya di bagian emergency dan diminta melihatkan kartu asuransi. Sesudah itu kami jalan kaki (saya pikir seperti di film-film, ibu hamil dinaikkan ke Kasur beroda hehe) ke lantai 3 di ruang Himawari. Continue reading “We have a baby! Part 3: Preparing for delivery”

We have a baby! Part 3: Preparing for delivery

We have a baby! Part 2: Daily life with the baby inside tummy

(isi postingan ini berlatar pada kehamilan minggu ke-8 sampai minggu ke-37)

Kerangka:

  • Kontrol dari minggu ke-8 sampai ke 37 apa aja
  • Kondisi kesehatan selama hamil
  • Kemana saja selama hamil

Saat itu akhir Agustus 2016, umur kehamilan 11 minggu. Selama beberapa bulan kemarin kami menabung agar bisa jalan-jalan berdua, gantinya honeymoon yang belum terlaksana setelah menikah (lah, sekarang tinggal di Tokyo Kawasaki kan bisa dianggap merantau sekalian honeymoon yak). Tetapi karena sudah ada bayi di dalam perut, kami tanyakan ke Dokter, boleh nggak kami berpergian jarak jauh, rencananya ke daerah Kansai. Tapi bukan jalan-jalan cantik pakai Shinkansen atau pesawat, tapi kereta lokal (alias 18kippu periode summer) yang kira-kira 10 jam perjalanan dalam sehari (soalnya murah!).

Oleh dokter kami diberi pesan, “Tidak apa-apa aktifitas seperti biasa, jalan-jalan juga. Cuma diingat ya, di perut kamu ada bayi. Jangan terlalu capek”. Oke, langsung saja sepulang dari rumah sakit kami beli 18kippu dua set di Stasiun JR Noborito.

View this post on Instagram

🏯

A post shared by Padi Puspita Herdayani (@padipuspita) on

Mungkin akan saya tulis tentang perjalanan 18kippu bersama bumil di postingan lain. Selain 18kippu, kami juga sempat wisata ke tempat lain, dan mungkin akan di-post di kesempatan selanjutnya. Poin pentingnya adalah, walaupun hamil ternyata tidak perlu sampai membatasi aktifitas kita. Bahkan beberapa senior saya hamil sambil melakukan aktifitas akademik, salut. Continue reading “We have a baby! Part 2: Daily life with the baby inside tummy”

We have a baby! Part 2: Daily life with the baby inside tummy